Pasca 5 tahun: Membangun kembali pendidikan pasca tsunami di Banda Aceh
Oleh Rob McBride Tsunami yang telah menghancurkan sebagain Provinsi Aceh di bulan Desember 2004 memakan korban jiwa lebih dari 300 murid sekolahnya. Kini setelah selesai dibangun kembali sulit dipercaya bahwa sekolah itu berada di pusat bencana yang paling parah di seluruh wilayah di sekitar Samudra Hindia. “Saya sedang bersama teman-teman waktu saya melihat air berwarna hitam muncul dari sungai,” kata Taufik yang berusia 10 tahun. “Saya lari ke mesjid sebelum ditemukan oleh ibu saya dan membawa saya ke pegunungan.” Ceritanya merupakan hampir mirip dari setiap cerita anak-anak yang selamat dari bencana.
Sekarang saat ia duduk di bangku terakhir sekolah dasar ia telah menyaksikan jumlah murid bertambah menjadi 190 orang dan berharap dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah lanjutan. Bagi Ibu Zahirah, kepala sekolah, tahun ini merupakan tahun kelima bagi dirinya dan para stafnya bangkit kembali melawan rintangan yang nyaris tak teratasi. “Kami bertekad agar anak-anak yang lain dapat kembali bersekolah secepatnya,” kata Ibu Zahirah. Sebagian besar muridnya hilang. “Jadi kami mengumpulkan anak-anak yang selamat sebanyak-banyaknya dari tenda-tenda pengungsi dan menyekolahkan mereka di sekolah tenda yang disediakan oleh UNICEF.” Setelah bencana mengembalikan anak-anak ke sekolah merupakan bagian dari proses pemulihan yang sangat penting. Secara bertahap tenda-tenda kelas dan ruang belajar sementara digantikan oleh bangunan permanen dan hingga kini sudah 364 gedung sekolah tahan gempa dibangun oleh UNICEF dan para mitranya. Gembira kembali ke sekolah yang sesungguhnya, Hafidz tidak mempunyai banyak kenangan manis tentang sekolah tendanya. “Belajar di sekolah tenda tidak enak,” katanya. “Tapi ruang kelas saya sekarang sudah lengkap.” Sekolah Taufik dan Hafidz merupakan sekolah pertama yang dibangun kembali dengan fasilitas dan cara pengajaran yang lebih baik daripada sebelumya. Di SD Ketapang, fasilitas penyedian air bersih, pembuanagan sampah dan WC yang telah diperbaiki oleh UNICEF namun siswa-siswanya rajin merawatnya sehingga mereka memenangkan penghargaan fasilitas kebersihan terbaik tingkat nasional dan daerah. Ibu Murniati, kepala sekolah SD Ketapang, merasa bangga atas penghargaan ini. “Kami selalu berusaha mengajarkan murid-murid tentang kebersihan pribadi,” ujarnya. “Tetapi sejak tsunami kemajuannya sangat pesat.”
Di SD 34 halaman dan koridor sekolah dipenuhi murid-murid yang berlalu lalang dengan diawasi oleh kepala sekolah mereka, Ibu Karmala. Sekolah ini merupakan sekolah yang ke 200 yang dibangun kembali oleh UNICEF dan merupakan perwujudan rencana dinas pendidikan untuk menggabungkan tiga sekolah menjadi satu dengan fasilitas untuk semua. “Kami mampu membuat standardisasi pelajaran agar merata bagi murid-murid dengan latar belakang yang berbeda-beda,” ujar Ibu Karmala. Usai sekolah Hafidz pulang berjalan kaki ke rumah kecil tempat ia tinggal bersama orang tua dan adiknya. Ia menunjuk garis setinggi dada di tembok rumahnya yang menandai tingginya air pada waktu terjadi tsunami. Seperti yang lainnya ia terpisah dari orang tuanya selama beberapa hari tanpa mengetahaui apakah mereka selamat atau tidak
|