Laporan Pasca 5 tahun Tsunami menandakan pencapaian program di masa darurat dan pemulihan
JAKARTA/GENEVA, 24 Desember 2009 – Lima tahun setelah gempa hebat di pesisir Indonesia menyebabkan tsunami yang menjalar ke bagian besar Samudra Hindia, UNICEF mengeluarkan laporan singkat pencapaian program di masa darurat dan rehabilitasi di delapan negara yang terkena dampak. Peristiwa tanggal 26 Desember 26, 2004 menyebabkan kerusakan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Hampir 230,000 orang tewas — 160,000 di Provinsi Aceh — kebanyakan mereka adalah wanita dan anak-anak. Masyakarat terkoyak, mata pencaharian hilang, keluarga, sekolah dan fasilitas kesehatan hilang terbawa arus besar. Kerusakan skala besar ini dan sumber daya yang besar pula yang menyusul di masa darurat dan rehabilitasi dari dalam dan luar negeri membuka kesempatan untuk memulihkan pelayanan sosial dasar dan membangun kembali dengan lebih baik. Masyarakat internasional menjanjikan lebih dari USD 14 milyar untuk masa darurat dan pemulihan di negara-negara yang terkena dampak dan UNICEF menerima dana sekitar USD 694.7 juta. Sekitar 75 persen digalang oleh komite nasional UNICEF. Laporan ini menandakan bahwa kesempatan membangun lebih baik bukan hanya seputar pelayanan dasar – seperti kesehatan, pendidikan dan air dan sanitasi – tapi juga termasuk memperbaiki keamanan masyarakat yang rentan dalam bencana alam atau konflik dan menyediakan keamanan yang lebih besar untuk anak-anak.
Di Indonesia, sebagai contoh, “respon internasional yang belum pernah terjadi terhadap tsunami menciptakan kesempatan unik untuk memperkuat proses perdamaian antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka,” laporan ini mengacu pada perjanjian perdamaian yang ditandatangi antara kedua pihak pada August 2005. Seiring usaha memenuhi kebutuhan yang mendesak setelah Tsunami, usaha UNICEF dalam rekonstruksi dan rehabilitasi memfokuskan pada daerah pasca konflik pula, sebuah keputusan strategis yang dirancang untuk mengkonsolidasi masa perdamaian pasca tsunami.
|