Memberikan ASI Adalah yang Terbaik, Terutama di Saat Kondisi Darurat
 |
|
© UNICEF Indonesia/Sutkojo |
|
Perwakilan UNICEF Indonesia Angela Kearney bicara dengan seorang ibu yang sedang menyusui bayinya di kota Padang, Sumatra Barat. |
PADANG, 30 Oktober, 2009 — Tumpukan susu formula hasil sumbangan yang datang di Pendopo Gubernur Padang, Sumatra Barat telah diangkut. Sementara kemurahan hati adalah motif yang mendasari perusahaan-perusahaan lokal untuk secepatnya memberikan respons terhadap gempa yang melanda propinsi itu pada tanggal 30 September, dampaknya dari sumbangan itu bisa fatal.
Dalam kondisi krisis, terus memberikan ASI kepada bayi tetap merupakan tindakan yang terbaik. Meskipun maksudnya baik, tapi pemberian susu pengganti dapat menimbulkan sejumlah efek yang serius – terutama meningkatnya risiko penyakit diare jika susu formula itu dibuat dengan air yang telah terkontaminasi.
Bekerja sama dengan Departemen Kesehatan, UNICEF membuat seruan cepat ke stasiun-stasiun radio lokal dan nasional meminta mereka untuk menyiarkan permintaan menghentikan bantuan susu pengganti. Para relawan dari organisasi mitra mengingatkan ibu-ibu di tempat penampungan sementara untuk tidak berhenti menyusui anaknya.
Hasil dari imbauan ini, termasuk larangan pendistribusian langsung susu formula kepada bayi-bayi yang selamat, cukup positif.
Di saat bencana, mengingat kondisi lingkungan yang buruk seperti kurang tersedianya air bersih, maka penting sekali bagi ibu-ibu untuk menyusui anak-anak mereka daripada memberikan susu formula,” kata Angela Kearney, Perwakilan UNICEF di Indonesia.
Sehari setelah gempa terjadi, UNICEF mendistribusikan toolkit tentang Pemberian Makanan Pada Bayi dan Anak dalam Situasi Darurat kepada kelompok-kelompok kemanusiaan dan pemerintah daerah. Toolkit ini digunakan oleh Muhammadiyah, organisasi keagamaan terbesar kedua di Indonesia, yang telah mengirimkan relawan mereka untuk mendistribusikan bantuan ke daerah terpencil di Kabupaten Agam.
 |
|
© UNICEF Indonesia/ Djuhari |
|
Desi Fitria dan tetangganya bercerita tentang rencananya untuk melahirkan dan menyusui bayinya di tempat penampungan sementara di kabupaten Agam. |
Saat para relawan ini mendatangi Desi Fitria, seorang perempuan yang sedang hamil 8 bulan, ia mengatakan bahwa akan melahirkan sekitar akhir Oktober.
“Pusat kesehatan yang biasa saya datangi sudah hancur. Mungkin saya harus pergi ke tempat lain yang jaraknya dua jam perjalanan,” katanya. Dia mendengar dengan seksama waktu diberi nasihat tentang bagaimana menyusui bayi di jam-jam pertama setelah bayinya lahir dan pemberian ASI eksklusif untuk enam bulan pertama akan memberikan bayinya antibodi dan gizi terbaik.
“Jauh lebih mudah menyusui. Saya tidak harus repot-repot merebus air dan memberikan botol dari sama,” katanya sambil menunjuk pada danau, di mana ia dan orang lain di tempat penampungan sementara menggunakannya sebagai sumber air.
Pengalaman sebelumnya di Indonesia menunjukkan bahwa susu formula dan susu bubuk adalah bantuan yang umum diberikan dalam keadaan darurat. Sayangnya, produk-produk ini seringkali dibagikan tanpa kontrol yang baik dan dikonsumsi oleh bayi dan anak-anak yang seharusnya masih harus disusui.
Hasil dari sebuah penilaian yang dilakukan UNICEF satu bulan setelah gempa di Yogyakarta di tahun 2006 menunjukkan bahwa tiga dari empat keluarga yang memiliki anak-anak di bawah usia enam bulan juga menerima bantuan susu formula. Hasil tersebut juga menunjukkan adanya peningkatan konsumsi susu formula dari 32% sebelum gempa menjadi 43% setelah gempa. Akibatnya, kasus-kasus penyakit diare di kalangan bayi usia di bawah enam bulan yang menerima bantuan susu formula dua kali lebih banyak dibandingkan mereka yang tidak menerima bantuan itu. Di samping itu, secara rata-rata, angka diare di kalangan anak-anak usia antara 6 – 23 bulan adalah 5 kali lebih besar dari angka sebelum gempa.
Sudah menjadi suatu keyakinan bahwa pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama dalam kehidupan bayi diikuti dengan pemberian ASI degan makanan tambahan sampai usia dua tahun merupakan sebuah cara yang paling efektif untuk menjamin kesehatan bayi dan pertumbuhannya yang normal.
Manfaat dari pemberian ASI jauh melebihi masa bayi itu sendiri. Bayi yang disusui dengan benar di awal kehidupannya akan tumbuh lebih besar, lebih kuat, lebih pintar, dan lebih bisa menyesuaikan diri dibandingkan bayi yang tidak disusui. Dengan kampanye untuk menyosialisasikan praktek pemberian ASI oleh ibu-ibu yang memiliki bayi sedang diintensifkan di seluruh negeri, masyarakat yang sedang menghadapi situasi darurat dan bencana alam menjadi semakin siap untuk mengasuh bayi-bayi mereka di bawah kondisi yang membuat stres ini. (LTD)