Vaksinasi Darurat Mentargetkan 90.000 Anak di Daerah Gempa di Sumatra Barat
 |
|
© UNICEF Indonesia/ Bura |
|
Seorang petugas kesehatan menyiapkan jarum suntik vaksin campak di sebuah klinik di Pariaman, Sumatra Barat, dalam sebuah inisiatif bersama antara Departemen Kesehatan Republik Indonesia, UNICEF dan WHO. |
PARIAMAN PARIAMAN, 21 Oktober, 2009 — Di bawah naungan terpal, sekelompok bayi ditenangkan oleh ibu, setelah baru saja diberikan imunisasi.
Ibu-ibu dan bayinya berkumpul di sebuah klinik kesehatan darurat, yang juga berfungsi sebagai posko gempa, yang didirikan di sebuah tempat yang masih dipenuhi oleh puing-puing akibat yang melanda daerah tersebut pada tanggal 30 September.
“Mari kita pastikan bahwa tetangga kita akan datang,” kata Susiawati, ibu dari Sonia dan Soneka. Susilawati membawa anak kembarnya untuk diberikan imunisasi setelah mendengar pengumuman melalui pengeras suara di mesjid. “Bukankah bayinya baru berumur antara 6 bulan dan 5 tahun. Ia butuh suntikan cacar.”
Sebuah poster berwarna kuning terpampang di pintu masuk klinik tersebut, yang menggambarkan kartun maskot nasional “Si Imun” yang mengingatkan ibu-ibu akan bahaya penyakit cacar. Poster itu menekankan bahwa imunisasi itu diberikan secara gratis, seperti juga halnya imunisasi polio dan pemberian Vitamin A.
Selama seminggu pertama sejak gempa melanda Sumatra Barat, UNICEF Indonesia telah memberikan dukungan kampanye imunisasi campak yang menargetkan 90.000 anak. Sebagai bagian dari program yang didukung UNICEF, leaflet telah dibagikan dan iklan-iklan telah dicetak di koran-koran lokal dan disiarkan lewat stasiun-stasiun radio.
Angela Kearney, Perwakilan UNICEF di Indonesia, menjelaskan alasan di balik kampanye tersebut, “Memberikan imunisasi campak kepada anak-anak di saat darurat adalah langkah-langkah pencegahan kesehatan publik yang paling efektif,” katanya. “Di wilayah-wilayah yang terkena dampak bencana, angka infeksi yang meningkat karena rusaknya infrastruktur dan terputusnya pelayanan kesehatan mengganggu imunisasi rutin.”
Lebih dari separuh dari 90 pusat kesehatan di empat kabupaten yang dilanda gempa melaporkan kerusakan ringan sampai sedang yang mengganggu sistem pendinginannya. Peralatan penting di puskesmas-puskesmas seperti kulkas dan kotak pendingin yang dapat membantu kerusakan vaksin tidak berfungsi dan tidak bisa diakses karena telah tertimbun reruntuhan.
Ini berarti bahwa vaksin perlu dibawa langsung dari kantor kesehatan kabupaten dan propinsi, yang menambah biaya operasional. UNICEF juga terjun untuk membantu kesenjangan dana di sini dan memastikan bahwa vaksin tersebut sampai pada anak-anak.
 |
|
© UNICEF Indonesia/ Bura |
|
Ibu-ibu berkumpul dari pusat kesehatan sementara di Pariaman, Sumatra Barat, untuk memastikan bahwa anak-anak mereka diberi imunisasi campak, sebuah inisiatif bersama antara Departemen Kesehatan Republik Indonesia, UNICEF dan WHO. |
Para petugas kesehatan yang bekerja siang malam memberikan pertolongan pertama kepada korban selamat sekarang memiliki tugas tambahan mengurusi tim vaksinasi yang membuat daftar ibu-ibu dan bayi dan menyisiri desa-desa di kota Padang, Pariaman,
Padang Pariaman dan kabupaten Agam.
“Kami tidak bisa menunggu ibu-ibu datang ke puskesmas,” kata Dr. Irene, kepala imunisasi dinas kesehatan propinsi, yang rumahnya rata dengan tanah karena gempa. “Saya telah berkomitmen untuk tidak istirahat sampai kita semua keluar dan mengunjungi seluruh desa.”

© UNICEF Indonesia/ Djuhari
Seorang petugas kesehatan menyiapkan jarum suntik vaksin campak di sebuah klinik di Pariaman, Sumatra Barat, dalam sebuah inisiatif bersama antara Departemen Kesehatan Republik Indonesia, UNICEF dan WHO.
Dr. Irene mengatakan pada setiap ibu yang ia jumpai tentang bagaimana virus campak dapat menular pada anak-anak dan menyebabkan mereka catat seumur hidup – termasuk kebutaan, tuli atau kerusakan otak.
“Vaksinasi campak dalam situasi darurat telah terbukti sangat efektif untuk mencegah wabah dan selanjutnya dapat menyebabkan kematian setelah bencana alam,” kata Dr. Vinod Bura dari UNICEF yang pergi ke Sumatra Barat untuk memonitor kampanye tersebut. “Kematian tersebut sungguh kematian orang-orang muda yang sia-sia sementara kita punya solusinya.”
Meskipun kemajuan yang cukup signifikan telah dibuat dalam tahun-tahun belakangan ini untuk meningkatkan cakupan imunisasi rutin, namun Indonesia masih menempati peringkat ke empat di antara negara-negara yang memiliki banyak anak-anak yang divaksinasi, berdasarkan perkiraan bersama antara WHO dan UNICEF. Memastikan bahwa gempa bumi – sebuah fenomena yang sangat umum di ‘Cincin Api’ Pasifik ini – tidak akan menghalangi imunisasi adalah inti dari respons UNICEF. (LTD)