Kisah Nyata

Esai foto

Kisah nyata dari penjuru Indonesia

 

Membangun Kembali Kehidupan dan Bangunan Setelah Gempa Bumi Sumatra Barat

© UNICEF Indonesia/ Djuhari
Cici Yuhendri (kiri) bertemu dengan teman-temannya di sekolah beberapa hari setelah gempa dahsyat yang menghancurkan rumahnya di Pariaman, Sumatra Barat.

By Lely Djuhari

PARIAMAN, Indonesia, 20 Oktober, 2009 — Saat itu suasananya mendadak terasa ganjil dan menakutkan di sawah milik keluarganya, saat Cici Yuhendi usia 11 tahun merasakan akan adanya bencana. Suara-suara burung menghilang di saat-saat menjelang  gempa bumi berkekuatan 7,6 skala Richter menghancurkan rumahnya di Propinsi Sumatra Barat, Indonesia.

“Bumi yang saya pijak bergoyang ke kiri dan ke kanan,” katanya mengingat. “Kemudian, bergerak naik turun; lutut saya terasa lemas dan saya hanya bisa telungkup sambil terus berdoa.”

Cici membuang tongkatnya yang terbuat dari plastik berwarna merah dan hitam, yang pada sore hari itu dipakainya untuk mengusir burung-burung yang memakan padinya yang sudah siap dipanen. Ia telungkup di tanah dan berpegangan pada serumpun rumput kuning.

Tatkala gempa sudah reda, ia memanggil kakaknya dan lari bergegas pulang ke rumah – yang mereka dapati sudah rata dengan tanah. Namun ayah dan ibunya selamat. Adik laki-lakinya pada malam-malam selanjutnya tidak mau lepas dari pelukan ibunya.

Kurang dari seminggu setelah gempa itu, Cici kembali bergabung dengan teman-temannya di sekolah menengah pertama di mana mereka saling menceritakan pengalamannya dan mencoba menenangkan satu sama lain. Banyak anak yang mengungkapkan kecemasannya akan masa depan mereka – atau akan gempa susulan, banyak bangunan runtuh dan ketidakmampuan untuk membangun kembali kehidupan mereka.

Yang utama memenuhi kebutuhan anak

“Anak-anak bersifat fleksibel. Dengan dukungan dari keluarga dan masyarakat, mereka bisa mengatasinya dengan baik,” kata Angela Kearney, Perwakilan UNICEF untuk Indonesia.

Dukungan untuk bisa mengatasi masalah ini adalah hal yang melatar belakangi kemitraan antara UNICEF dan Departemen Sosial Republik Indonesia yang telah membuka Sekretariat Bersama untuk Perlindungan Anak.

Pelatihan yang intensif sedang diberikan kepada guru-guru dan petugas sosial tentang bagaimana mengetahui kebutuhan psikososial dan memberikan dukungan yang diperlukanPARIAMAN, Indonesia support.

© UNICEF Indonesia/ Djuhari
Kembali ke sekolah memungkinkan dirinya untuk menemukan ketenangan dan dukungan di kalangan teman-temannya dan para guru, banyak dari mereka sudah dilatih oleh UNICEF untuk memenuhi kebutuhan anak yang terkena dampak bencana tersebut.

Menurut angka-angka resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional, lebih dari seribu orang meninggal dalam gempa yang terjadi tanggal 30 September itu. Tapi aspek pekerjaan yang paling penting sekarang adalah memberikan dukungan pada mereka yang selamat.

Banyak anak yang kehilangan orang tua atau sekarang diasuh oleh sanak keluarga, teman dan tetangga. Yang lain diketahui telah meninggalkan kampungnya setelah gempa. Namun demikian, perkiraan pemerintah yang dari satu juta orang terkena imbas dari gempa tersebut, di mana sepertiga diyakini adalah anak-anak. Bagaimana membantu mereka di pekan-pekan dan bulan-bulan mendatang adalah prioritas utama UNICEF.

“PR matematika saya tergeletak saja dalam gelap tadi malam,” kata Cici. “Itu PR tentang mean, modus dan rata-rata yang biasanya mudah buat saya tapi sekarang melayang-layang saja dalam kepala saya.”

“Guru saya sangat baik dan mengatakan saya tidak perlu cemas. Tanpa mereka, mungkin saya tidak akan kembali ke sekolah. Mereka sangat membantu kami dan mengatakan agar kami berbicara dengan teman-teman tentang apa saja,” katanya.

Menciptakan lingkungan yang ramah anak

Di samping petugas sosial dan para guru, UNICEF juga mendukung Muhammadiyah, sebuah organisasi keagamaan Indonesia, dengan memberikan tenda, alat-alat pendidikan, buku-buku dan permainan. Sembilan pusat anak telah didirikan di Pariaman dan di tiga kabupaten lainnya yang terkena dampak gempa.

Dalam lingkungan yang ramah anak ini, anak-anak bisa bergabung melakukan aktivitas seperti bermain, menyanyi, menari dan melukis, yang dapat membantu mereka membangun ikatan dan mengurangi perasaan keterasingan. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan di pusat-pusat anak tersebut dirancang untuk membantu petugas yang sudah dilatih untuk mengidentifikasi anak-anak yang memperlihatkan tanda-tanda stres yang serius, sehingga mereka dapat diberikan bentuk dukungan yang lebih spesifik.

UNICEF juga telah mendukung Departemen Sosial untuk melakukan jajak cepat tentang masalah perlindungan akan di Kota Padang, Pariaman, dan kabupaten Padang Pariaman, yang menemukan bahwa tidak ada keluarga yang terpisah, pergerakan anak ke lokasi lain, atau perdagangan anak. Ini tentu saja merupakan kabar baik – tapi tugas untuk membantu anak-anak membangun kembali kehidupan mereka setelah gempa di Sumatra Barat itu adalah yang utama dari aktivitas UNICEF.

 

 

 
unite for children