Kisah Nyata

Esai foto

Kisah nyata dari penjuru Indonesia

 

Peran Wartawan Mempromosikan ASI di Situasi Darurat

© Harry Nugroho
Para wartawan yang ikut lokakarya jurnalis ASI di situasi darurat

Oleh Lely Djuhari

Bogor 7 Agustus, 2009 — Suara sirene meraung. Siaran berita radio mengumumkan adanya gempa yang mengakibatkan kematian ribuan orang, termasuk anak-anak. Beberapa lelaki dan perempuan berlari membawa kardus berisi bantuan makanan. Segerombolan wartawan bertubi-tubi melemparkan pertanyaan kepada seorang ibu yang sedang merubah posisi kain selendang batik dan gendongannya. Sambil menyeka keringatnya, sang Ibu mengelus dahi … sebuah boneka sambil menunjukkan botol susu dan setumpuk kardus susu formula di sampingnya kepada para wartawan.

Peristiwa di atas bukanlah peristiwa yang sesungguhnya, namun hanyalah sebuah simulasi di akhir lokakarya jurnalis bertajuk “Donasi Susu Formula dan Makanan Bayi – Tulus atau Bulus?” yang dilaksanakan di Hotel Novotel, Bogor, Jawa Barat, awal Agustus ini. Acara yang digelar atas kerjasama Badan PBB untuk anak UNICEF, Mercy Corps dan Koji Communications ini menghadirkan kalangan ahli kesehatan dan lembaga penanganan bencana. Jurnalis dan presenter Arief Soeditomo tampil sebagai moderator.

Lokarya ini, yang diadakan di Bulan ASI Indonesia, bertujuan untuk meningkatkan kesadaraan wartawan akan pentingnya ASI bukan hanya dalam situasi normal tapi juga di saat bencana seperti gempa, tsunami, kebakaran dan lain-lain. Tema ini adalah tema Bulan ASI Indonesia. 

ASI ekslusif enam bulan dan terus menyusui selama dua tahun dengan makanan tambahan sudah terbukti adalah cara yang paling efektif menjamin kesehatan dan pertumbuhan anak. Manfaat ASI juga sangat penting di situasi darurat.

Namun salah satu bentuk sumbangan yang terbanyak bagi korban bencana adalah susu formula dan makanan bayi, kata Adhy Karyono dari Direktorat Bantuan Sosial Korban Bencana Alam Departemen Sosial. Namun, seharusnya anak-anak tetap diberikan ASI oleh ibu-ibunya. Walapun banyak yang berniat baik memberikan sumbangan ini,  dampaknya dapat mengakibatkan para bayi jatuh sakit bahkan meninggal.

Dalam keadaan darurat yang sering diikuti dengan kelangkaan air bersih dan sedikitnya kesempatan serta fasilitas untuk membersihkan botol dan perlengkapan makan bayi dan anak, resiko yang berkaitan dengan pemberian makanan yang tidak alami cukup tinggi. Botol, dot dan benda lain yang digunakan dalam pemberian susu formula juga dapat menjadi masalah. Jika tidak steril, benda-benda itu bisa memicu timbulnya beragam bakteri berbahaya. Ini dapat menyebabkan diare dan penyakit lain. Lambat laun para bayi akan kurang gizi, dehidrasi dan dapat terancam kematian.

Dengan demikian, tidak ada yang lebih baik ketimbang pemberian ASI ekslusif pada situasi darurat maupun situasi normal.
Menurut penelitian UNICEF setelah bencana Gempa Yogyakarta tahun 2006, “Kasus diare pada anak di bawah dua tahun yang menerima bantuan susu formula dua kali lipat dibandingkan pada mereka yang tidak menerima bantuan susu formula”, kata Anna Winoto, spesialis UNICEF untuk gizi dalam diskusi panel yang diselenggarakan di awal lokakarya ini.

© UNICEF/Estey
Seorang ibu memandang bayinya di tengah rumahnya yang rusak setelah gempa.

Pak Karyono menambahkan di saat bencana ketersediaan air bersih terbatas, begitu pula dan alat-alat yang dapat membantu persiapan makanan dan minuman bayi yang baik.

Banyak partisipan berkata pengetahuan mereka meningkat. “Seringkali saya meliput bencana. Namun keprihatinan saya dulu hanyalah sebatas apakah bayi dan ibu menerima bantuan atau tidak,” kata Hesti, koresponden dari Kompas di Bogor. “Sekarang saya lebih terdorong untuk bertanya lebih dalam. Apakah bantuannya sudah lewat kadaluarsanya? Saya pun dapat informasi bahwa bantuan susu formula dan makanan bayi bagi korban bencana tidak selalu bermanfaat. Sebaliknya, bentuk bantuan seperti itu justru bisa berdampak buruk.”
 
Sebagian orangtua korban bencana mengaku terpaksa memberikan susu formula karena kesulitan memberikan air susu ibu (ASI) sebagai akibat stress dari situasi traumatik paska bencana. Anggapan seperti ini, menurut Dr Utami Roesli, tidak tepat. Dalam kondisi apa pun secara alamiah seorang ibu tetap bisa menyusui. Produksi ASI akan semakin banyak bila bayi semakin sering disusui. Penurunan produksi ASI dapat terjadi akibat stress. Namun demikian kondisi tersebut hanya bersifat sementara dan tidak perlu ada tambahan susu formula.

Menurut Anna Winoto dari UNICEF, memberikan dukungan dan konseling kepada Ibu agar terus menyusui merupakan upaya penting yang harus dilakukan paska bencana. “Saat ini telah ada lebih dari 1,000 konselor menyusui yang tersebar di 33 propinsi dan dapat memberikan dukungan kepada para ibu,” tambahnya.

Pengurus Sentra Laktasi Indonesia  ini menjelaskan, bahwa bahaya susu formula disebabkan oleh bahan dari susu itu sendiri dan cara penyiapannya.

Dr. Asti Praborini dari Persatuan Perinatologi Indonesia (Perinasia) menyatakan hal senada. “kegiatan menyusui tidaklah sekadar memberi gizi yang baik, tapi juga melibatkan unsur emosi bagi anak,” terangnya.

Mercy Corps bencana tidak selalu identik dengan kejadian besar seperti tsunami atau gempa bumi. Banjir yang hampir setiap tahun melanda sejumlah wilayah di Jakarta juga termasuk kejadian yang membutuhkan penanganan khusus.

Masalahnya minimnya informasi tersebut dikuatkan dengan hasil analisa UNICEF terhadap berita yang beredar di media massa seputar bencana yang lebih menekankan perlunya susu formula dalam jumlah banyak walaupun tidak didukung dengan bukti bahwa keperluan itu akan memberi nilai tambah untuk kesehatan anak.

Sejumlah pihak yang selama ini biasa terlibat dalam penanganan bencana sepakat untuk mengatur pemberian bantuan susu formula dan makanan bayi lainnya. Hanya saja, hingga kini implementasinya memang belum berjalan dengan baik. PP No. 21-23 tahun 2008 tentang penanggulangan bencana sudah ada. Kepmenkes 237 yang mengatur pemasaran pengganti ASI ekslusif juga sudah dikeluarkan. Namun, masyarakat nampaknya belum melihat masalah ini sebagai persoalan serius. Dengan demikian, media massa menjadi bagian penting untuk mendukung upaya advokasi mengenai pemberian ASI eksklusif.

 

 

 

 

Link Terkait






unite for children