Imunisasi Anak-Anak di Hutan Belantara di Kalimantan
Oleh Lely Djuhari Riam Dadap hanyalah salah satu dari ribuan desa di Indonesia. Letaknya dapat dijadikan salah satu tantangan program imunisasi negara ini, karena harus memberi vaksin kepada lima juta anak yang hidup di segala penjuru tanah air, bahkan di tempat yang hampir tidak mungkin dijangkau pelayanan kesehatan dasar. Namun anak-anak tersebut harus melengkapi program Lima – Lengkap, sehingga dapat mencegah penyakit seperti tuberkulosis, campak, batuk rejan, hepatitis B dan tetanus. Mereka harus diberi vaksin tepat waktu sesuai dengan protokol yang sudah ditetapkan oleh puskesmas dan posyandu. Setiap tahun sekitar lima juta anak-anak butuh imunisasi. Pekan Imunisasi Nasional memerlukan dana yang besar. Untuk mencegah meluasnya kasus penyakit menular cara yang terbaik adalah imunisasi rutin dengan tepat jadwal dan sesuai protokol yang ditetapkan oleh puskesmas dan posyandu setempat. Masih banyak anak-anak Indonesia yang tidak menyelesaikan imunisasi lengkap dan hanya mendapatkan satu atau dua dosis vaksin tertentu. Peran UNICEF adalah mendukung pemerintah dalam pembuatan kebijakanan, pengawasan dan pembelian vaksin pada saat penyakit menyebar luas dan cepat, sehingga membutuhkan pekan imunisasi nasional. Di Riam Dadap, perjalanan vaksin sudah berakhir. Para petugas kesehatan di Puskesmas telah menggunakan berbagai macam transportasi: perahu cepat yang melayang di sungai-sungai besar Kalimantan, truk bak terbuka, sepeda motor di jalan-jalan yang masih belum diaspal dan berlubang besar, dan pada akhirnya menggunakan kano bermotor melintasi batu-batu besar di sungai. Vaksin ini dibawa dari gudang penyimpanan dari kota kecamatan sekitar 250 kilometer hingga sampai di desa berjumlah 800 penduduk. Petugas puskesmas Pius Hansip dan Aloysius Dedi belum bisa istirahat. Mereka harus membuka kotak dingin dan memeriksa apakah isi vaksin masih dingin. Seonggok es yang diletakkan di tutup kotak sudah meleleh dan harus diganti dengan air dari mata air di pegunungan yang masih dingin. Mereka juga memeriksa setiap penanda vial vaksin. Jika warna stiker belum berubah, berarti vaksin masih aman. Esok harinya, seperti awal bulan, rumah panjang yang berfungsi sebagai balai desa berubah menjadi posyandu. Poster-poster ceria dipasang di dinding balai. Ada poster yang dapat membantu mengukur ketinggian anak, ada pula poster yang mengingatkan para ibu jadwal vaksin yang tepat. Puluhan bayi tidur pulas – ada yang sesekali menguap kecil - dalam gendongan batik yang dibawa para ibu. Mereka menunggu ditimbang dan diperiksa kesehatannya. Ada yang kaget dan menangis saat diberikan vaksin dengan suntikan sekali pakai.
“Saya baru tahu bayi saya terlalu kurus,” kata Maria Lusiana, ibu berumur 19 tahun. “Petugas posyandu mengajarkan saya cara memberi makanan yang sehat. Bayi saya harus makan telur, sayuran, jadi bukan hanya nasi tim. Saya juga baru tahu bayi saya akan sering sakit jika tidak bertambah berat badan dan tidak diimuniasi,” kata Maria. Semangat terlihat di wajah para warga desa. Bulan ini mereka mendapatkan buku-buku kesehatan ibu dan anak berwarna merah jambu untuk mencatat berat bayi dan vaksin yang telah diberikan pada bayi mereka. Sebelumnya para ibu harus mengingat tanpa catatan. Tahun ini seorang penduduk setempat akan menyelesaikan pendidikan kebidanan dan dapat bertugas di desa mendampingi setiap kelahiran. Pada tahun 2010 desa ini diprioritaskan mempunyai pusat kesehatan desa. Saat ini, puskemas dikepalai oleh Pak Ardi, seorang dokter berumur 29 tahun dan 4 petugas kesehatan. Mereka berjuang memberikan pelayanan kesehatan kepada para warga dengan sumber daya yang ada. Vaksin yang tidak terpakai harus dikembalikan dan kembali menempuh perjalanan dua jam ke tempat yang ada listrik dan fasilitas penyimpanan vaksin. Desa Riam Dadap masih harus memakai generator dengan disel sehingga tidak bisa menyimpan vaksin. Pemerintah pusat memang merencanakankan kotak penyimpan vaksin bertenaga surya, yang dapat menyimpan vaksin lebih banyak, tetapi masih banyak persiapan untuk memastikan agar vaksin dapat dipakai dengan baik dan aman. Penyakit malaria juga mengancam hidup para bayi dan keluarga di kecamatan ini. ”Vaksin” terbaik untuk malaria adalah kelambu yang telah diberikan insektisida. Kelambu ini dapat dipakai selama tiga tahun untuk melindungi anak. Namun Indonesia masih membutuhkan tambahan dana untuk membeli kelambu dalam jumlah besar. Memberikan pelayanan kesehatan untuk 12,000 jiwa di kecamatan ini adalah tantangan yang besar bagi kelima orang ini. Tetapi pengabdian mereka pun sangat besar.
Keterangan: Desa Riam Dadap baru-baru ini dikunjungi oleh 11 wartawan dari Belanda. Mereka menapak tilas jejak Charley Boorman yang melihat imunisasi vaksin tetanus tahun lalu. Program TV ”By Any Means”, yang dibintangi Charley akan disiarkan oleh National Geographic Channel the Netherlands pada akhir Juni dalam rangka penggalangan dana bulan Juni dari UNICEF the Netherlands.
Link Terkait
|