Belajar dari Sejarah Bukti Pandemi Flu di Indonesia Ditemukan
Foto dan artikel oleh: Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Indonesia, 10 Mei 2009 – “Tiga orang bibi saya meninggal pada waktu bersamaan,” ujar Kun Masora, salah satu pemuka masyarakat adat Tana Toraja. “Tragedi tersebut terjadi di tahun 1918. Mereka semua meninggal setelah demam tinggi berhari-hari,” tutur pria berusia 70 tahun itu, sambil berusaha mengingat kembali cerita yang dikisahkan oleh ibunya tentang wabah raya yang menyerang Toraja 91 tahun yang lalu. Ibu Masora, yang meninggal di tahun 1995, berulangkali menceritakan wabah pembunuh massal tersebut kepada anak-anaknya. Cerita wabah tersebut juga tercatat dalam tradisi lisan yang disampaikan secara turun temurun. Kesaksian Masora membuktikan bahwa Indonesia juga mengalami pandemi influenza mematikan, sama seperti yang dialami Amerika Serikat dan Eropa. Catatan medis dari Pemerintah Kolonial Belanda, yang saat itu menjajah Tana Toraja dan sebagian besar kepulauan Nusantara, menyatakan bahwa kematian masif tersebut disebebkan oleh wabah raya influenza mematikan. Para sejarawan Universitas Indonesia, yang menemukan catatan medis tersebut, menerangkan bahwa tragedi tersebut adalah bagian dari sebuah pandemi global yang dikenal dengan Pandemi Flu Spanyol. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), pandemi 1918 menewaskan lebih dari 20 juta orang di seluruh dunia. Pemerintah kolonial memperkirakan sekitar 10 persen dari 3.000 populasi Toraja meninggal. Sementara, menurut pengakuan ibunda Masora,hampir setengah populasi Toraja saat itu meninggal dunia.
“Kata Ayah saya: ‘Udara bagai diracuni’. Tidak ada satu keluargapun yang tidak kehilanggan anggotanya,” cerita pria berumur 71 tahun ini. Kakeknya menjadi korban pandemi 1918. “Bahkan orang yang pergi menguburkan, meninggal setelah bersentuhan dengan jasad yang dikubur. Ayah saya bilang saat itu penduduk tidak punya waktu untuk mengubur orang jadi hanya diletakkan di pemakaman-pemakaman di seluruh Toraja,” tambahnya. “Pengetahuan tentang kisah wabah yang terjadi di masa lalu akan membantu meningkatkan pemahaman masyarakat saat ini,” terang Purwanta Iskandar, kepala kantor perwakilan UNICEF di Sulawesi Selatan.
|