Pemerintah Belanda dan UNICEF tekankan pentingnya pendidikan tentang pencegahan HIV bagi remajaDi Indonesia, setiap hari diperkirakan terjadi infeksi HIV baru pada 7 anak berusia 0-18 tahun dan setiap jam pada 1 remaja berusia 15-24 tahun. Jakarta, 15 Desember 2008 Setiap hari, di Indonesia diperkirakan terjadi infeksi HIV baru pada 7 anak berusia 0-18 tahun. Setiap jam, 1 remaja berusia 15-24 tahun terinfeksi HIV. “HIV dan AIDS memiliki dampak yang luar biasa pada kehidupan anak dan remaja. Kelangsungan hidup dan hak mereka atas kesehatan, pendidikan dan perlindungan bisa terancam karena HIV/AIDS. Seiring dengan meningkatnya penyebaran HIV di Indonesia, semakin banyak anak yang terkena dampaknya setiap hari, khususnya di propinsi Papua dan Papua Barat,” tutur Dr. Gianfranco Rotigliano, kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia. Saat ini diperkirakan terdapat 193.000 Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) di Indonesia, sekitar 0,16 % dari total penduduk. Namun demikian, prevalensi nasional yang rendah ini tidak merefleksikan status penyebaran di kalangan kelompok perilaku beresiko, khususnya pengguna narkoba suntik (penasun), pekerja seks komersial dan pria yang berhubungan seks dengan sesama pria. Lebih dari separuh dari penasun dipercaya telah terinfeksi HIV, demikian pula dengan 20% wanita pekerja seks, dan sebagian besar merupakan remaja berusia 15-24 tahun dengan pendidikan sekolah dasar dan sekolah menegah. Remaja sekolah juga sudah terlibat dalam perilaku beresiko tertular infeksi HIV. Oleh karena itu, selain memprioritaskan target program penanggulangan HIV dan AIDS pada pada remaja paling berisiko, pendidikan mengenai HIV di sekolah juga merupakan tanggapan strategis bagi pencegahan infeksi di kalangan remaja. Sebagian besar upaya penanggulangan HIV/ dan AIDS berfokus pada kelompok perilaku berisiko, namun program kerjasama Pemerintah Indonesia dan UNICEF diarahkan pada remaja di sekolah dan luar sekolah dengan pesan-pesan pendidikan tentang pencegahan HIV. Dengan memberi remaja pendidikan seks yang bertanggung jawab sebelum mereka memasuki periode seksual aktif, pendidikan ini akan dapat menolong mereka untuk dapat melindungi dirinya melalui akses pada kondom, pemeriksaan kesehatan seksual, dan menghilangkan tabu yang berkatian dengan HIV/AIDS. Program ini bertujuan melindungi generasi sekarang dari infeksi HIV dan melindungi generasi yang akan datang. Merujuk pada bukti dan pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, program ini diarahkan untuk melembagakan pendidikan pencegahan HIV pada struktur pendidikan yang ada di propinsi, kabupaten dan kota. “Pengarusutamaan HIV dan AIDS dalam sistem pendidikan adalah untuk memastikan agar HIV dan AIDS bukan sekedar kegiatan tambahan maupun kegiatan terpisah, namun merupakan bagian dari kebijakan, strategi dan upaya sektor pendidikan. ”Ada komitmen kuat dari pejabat berwenang di tingkat propinsi bagi tanggapan menyeluruh sektor pendidikan terhadap HIV dan AIDS, dan kami menilai komitmen tersebut sangat penting untuk mendukung proses ini pada saat yang tepat,” demikian menurut Arnold van der Zanden, Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Kerajaan Belanda. Untuk informasi selanjutnya, silahkan hubungi Sharifah Tahir, Kepala Unit HIV/AIDS UNICEF, HP: 0811 139 115, e-mail: shtahir@unicef.org atau Gonneke de Ridder, Humas Kedutaan Besar Belanda, HP 0811886044.
Link Terkait UNICEF-Dutch Embasssy Joint release on the grant for HIV AIDS (Bahasa Indonesia).pdf [PDF] (PDF documents require Acrobat Reader to view.) |