Jurnalis dan Pelajar Maluku Padukan Kekuatan Memerangi Flu Burung
Oleh: Muktita Suhartono dan Arie Rukmantara
Jurnalis Ambon sepenuhnya menyadari bahwa mereka perlu meningkatkan pengetahuan mereka mengenai flu burung untuk memastikan bahwa artikel yang akan dihasilkan akurat dan informatif bagi masyarakat. Untuk meningkatkan kemampuan mereka, 11 orang jurnalis melakukan studi lapangan di lima desa percontohan di Cirebon dan Subang, Provinsi Jawa Barat, untuk belajar mengenai langkah-langkah pencegahan flu burung di tingkat masyarakat. Kepala kantor perwakilan UNICEF Maluku Widodo Suhartoyo menjelaskan bahwa walaupun Maluku tidak berada dalam “dafar merah” daerah endemis flu burung, namun sebenarnya tidak ada tempat yang benar-benar bebas dari resiko terjangkit flu burung. “Flu burung merupakan sebuah ancama nyata. Baik langsung maupun tidak langsung, Maluku akan menanggung konsekuensi saat virus flu burung H5N1 tidak lagi dapat dikendalikan penyebarannya,” jelasnya. Widodo juga menjelaskan bahwa tujuan dari kampanye ini adalah untuk mengajak masyarakat berpikir kedepan dan mencegah penyebaran virus mematikan yang dapat menyebabkan kondisi yang lebih memprihatinkan. “Para ahli mengakui bahwa kemungkinan terjadinya pandemi adalah nyata. Jika virus bermutasi kedalam bentuk yang mudah ditularkan antarmanusia, semua orang akan beresiko. Oleh sebab itu kita semua bekerja sama dengan media karena media massa adalah alat yang paling efektif untuk mencapai masyarakat,” tambahnya. Sebagai bagian dari kampanye, para jurnalis mengadakan lokakarya jurnalisme selama dua hari yang diikuti oleh 40 siswa sekolah. “Kami diajarkan untuk membuat kerangka laporan mengenai flu burung. Para pengajar yang terdiri dari para jurnalis, mengajarkan kami bagaimana menulis laporan berita, melakukan wawancara , dan juga teknik menulis laporan yang benar,” jelas Zaenal Arifin, salah seorang peserta. Peserta lain, Caleb Ong, siswa berusia 16 tahun menjelaskan “Flu burung adalah penyakit pada unggas yang juga dapat menyerang manusia. Penyakit ini sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu kita harus membagi informasi dan menjelaskan bahaya penyakit ini kepada keluarga dan teman. Agar mereka dapat melindungi diri mereka dari penyakit ini.”
“Kami mendukung lokakarya jurnalisme bagi para siswa ini untuk mempermudah cara penyampaian informasi mengenai flu burung di sekolah, kepada teman-teman dan kelompok sebaya. Adalah sangat penting bahwa mereka tahu cara menyebarkan informasi yang mereka miliki mengenai flu burung kepada orang lain.” jelas Widodo lagi. Duta UNICEF Indonesia, Ferry Salim, mendukung kegiatan seperti ini. “Saya terkejut. Majalah dinding yang dikerjakan oleh para siswa sangat istimewa. Saya harap kegiatan ini dapat menjadi contoh bagi provinsi lain. Bersama-sama kita menyebarkan informasi mengenai ancaman flu burung kepada setiap orang.” Ferry menyambut baik inisiatif yang dilakukan oleh para jurnalis dan siswa dan juga mengajak mereka untuk melakukan kegiatan ini sebagai bagian dari kegiatan perilaku hidup bersih dan sehat. “Anak-anak, selalu cuci tangan dengan sabun. Jangan bermain dengan unggas. Jika ada gejala demam, batuk atau gejala flu lainnya, berobatlah ke Puskesmas. Jika melihat ayam mati, laporkan kepada orang tua, guru atau kepala desa,” imbuhnya.
|