Air Bersih Bukan Sekedar Mimpi Lagi Buat Warga Aceh
Oleh Ivy Susanti MERIE SATU, Nanggroe Aceh Darussalam, 4 June 2008 – Berpuluh-puluh tahun warga desa Merie Satu hanya bisa bermimpi bahwa mereka suatu hari akan menikmati air bersih. Tidak pernah ada sumber air yang layak dikonsumsi di lingkungan tempat tinggal mereka yang terletak di pedesaan, daerah yang dulu merupakan salah satu tempat konflik bersenjata di kabupaten Bener Meriah. Setiap kali warga desa membutuhkan air untuk minum atau mencuci, mereka harus berjalan paling tidak sejauh 1,5 kilometer – dan harus selalu dengan resiko diserang oleh pasukan keamanan, baik TNI atau Brimob atau dihadang oleh para anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Oleh karena itu, kebanyakan warga memiliki tempat penampungan air yang dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan mereka selama tiga bulan selama musim hujan. Warga desa pun sudah meminta pejabat-pejabat desa setempat untuk pembuatan fasilitas air dan sanitasi akan tetapi tidak pernah ada tindakan lebih lanjut – sampai akhirnya perubahan terjadi pada bulan Maret tahun ini. Mendorong terciptanya budaya bersih Pasca penandatanganan persetujuan dama antara pemerintah Indonesia dan wakil dari gerakan separatis Aceh, wilayah-wilayah yang terkena dampak dari konflik bersenjata tersebut menjadi terbuka. Pada saat itulah, UNICEF mulai membantu pemerintah propinsi Aceh untuk mendorong terciptanya budaya hidup sehat di masyarakat serta membantu pembangunan fasilitas air dan MCK. Empat belas desa di dua kabupaten, Bener Meriah dan Aceh Tengah, kemudian dipilih sebagai tempat untuk dimulainya proyek pembangunan fasilitas air dan sanitasi. Berpenduduk 581 jiwa, Merie Satu, yang memiliki empat dusun ini, merupakan salah satu diantara desa yang dipilih. Hal pertama yang harus dilakukan dalam proyek tersebut, setelah penetapan wilayah yang akan disentuh oleh pembangunan dukungan fasilitas air dan sanitasi tersebut, adalah mengidentifikasikan sumber air yang ada. Masyarakat setempat sangat terlibat dalam proses ini karena dari mereka lah, informasi mengenai sumber-sumber air yang layak tersedia. UNICEF dan mitra pelaksana proyek Project Concern International (PCI) kemudian bersama dengan masyarakat setempat menetapkan pilihan pada sumber air yang menghasilkan air yang segar dan bersih yang terdekat dengan wilayah perumahan. Sumber air inilah yang kemudian disalurkan ke wilayah pemukiman dengan sistim pipanisasi. UNICEF menyediakan pipa, bahan-bahan bangunan dan peralatan lain yang tidak tersedia di daerah tersebut. Badan dunia ini juga melaksanakan edukasi untuk warga mengenai pentingnya cuci tangan secara teratur serta penggunaan MCK dengan semestinya
Peran Serta Masyarakat Sementara itu, warga juga mengumpulkan sumbangan-sumbangan sukarela untuk membeli bahan-bahan bangunan tambahan yang diperlukan, termasuk juga menyediakan air minum dalam botol dan makanan ringan untuk para pekerja bangunan yang juga kebanyakan adalah warga setempat. Laki-laki dan perempuan menyediakan waktu dan tenaga mereka untuk membantu pemasangan pipa-pipa dan membangun fasilitas sanitasi dan MCK, secara sukarela tanpa menerima upah atau bantuan berupa uang baik dari UNICEF atau dari PCI. “Ketika tim dari UNICEF-PCI datang ke desa kami dan memberitahu kami bahwa sangat mungkin untuk mendapatkan air bersih, kami tidak mempercayainya,” kata Kepala Desa Merie Satu Baharuddin. “Banyak orang sini bertaruh kalau kami ini tidak akan pernah mendapatkan air bersih sampai akhir jaman.”Pada saat pipa-pipa mulai dipasang dan pembangunan MCK berjalan di awal bulan Maret, kepercayaan warga mulai tumbuh. Di akhir bulan, tanggal 30, mereka merasakan air segar dan bersih pertama kali mengalir ke desa mereka. Keuntungan Ekonomi Sebelum ada proyek ini, di desa ini terdapat 71 WC yang digunakan oleh 145 keluarga. Jumlah WC menjadi 134 di pemukiman dan sekolah-sekolah, atau lebih dari dua kali lipat setelah ada proyek ini. Pengurus desa saat ini sedang merancang penerapan biaya berlangganan untuk penggunaan air supaya dapat mencukupi pembiayaan untuk perawatan pipa-pipa serta fasilitas pendukungnya. Warga yang mengantungkan hidupnya dari perkebunan kopi dan cabe pun merasa gembira dengan keuntungan ekonomi yang mungkin mereka dapat dari sistim sanitasi dan akses air tersebut. “Karena sekarang kami sudah memiliki sumber air yang tetap, kami dapat menanam sayur sepanjang tahun, sehingga kami dapat pemasukan yang tetap,” kata sekretaris desa Suhada. ”Kami juga berharap di masa datang kami pun dapat belajar bagaimana menyuling air dan menjualnya untuk kebutuhan air minum.”
|