UNICEF meresmikan sekolah permanen
Pencapaian luar biasa-100 sekolah!! Walikota Banda Aceh Mawardi Nurdin bulan ini telah meresmikan SDN 96 di Neusu Aceh, Baiturrahman, Banda Aceh, yang menandai sekolah ke 100. SDN 96 adalah sekolah keempat di Banda Aceh dan sekolah keempatbelas di Aceh dan Nias yang diselesaikan UNICEF, sedangkan 86 sekolah lain masih dalam pembangunan.
Seluruh 130 siswa-siswa dan 16 guru SDN 96, orang tua, anggota masyarakat, pejabat dari Dinas Pendidikan dan bahkan beberapa kepala sekolah dari sekolah lain menghadiri peresmian tersebut.
Mereka mendengarkan Atun, siswi kelas lima, yang membacakan puisi tentang sekolahnya yang berwarna biru muda. Mereka juga menikmati penampilan tradisional peusijuk yang bermakna harapan agar bangunan itu membawa keberuntungan dan dijauhkan dari roh-roh jahat.
Mereka juga melihat Kepala UNICEF Banda Aceh dan Nias, Edouard Beigbeder, menyerahkan kunci biru berukuran besar secara simbolis kepada kepala sekolah SDN 96 untuk ’membuka’ bangunan dua lantai dengan enam ruang kelas tersebut.
”Kita telah berjalan bersama-sama untuk sampai pada momen yang baik ini,’ kata Beigbeder, ”Saya secara tulus mengucapkan selamat datang pada Anda semua di sekolah yang baru. Saya mengajak Anda untuk terlibat secara aktif dalam memelihara dan menggunakannya. Dengan demikian generasi yang akan datang tetap dapat memiliki tempat yang bagus untuk belajar.”
Seperti halnya sekolah UNICEF lainnya, SDN 96 dirancang sebagai sekolah ramah anak dan tahan gempa. Pembangunannya menelan biaya sekitar 160.000 dolar AS. Sekolah itu juga memiliki ruang guru, perpustakaan, tempat bermain yang luas dan toilet yang terpisah untuk anak laki-laki dan perempuan.
Bangunan sekolah SDN 96 ini dulunya hancur karena gempa bumi dahsyat pada 26 Desember 2004 dan akhirnya dirobohkan pada 2005. Para siswa sempat belajar di tenda-tenda darurat UNICEF setelah bencana. Kemudian para guru dan murid pun pindah ke unit-unit sekolah semi permanen yang disediakan oleh UNICEF sambil menunggu terselesaikannya pembangunan sekolah permanen.
Ibu Hurin sebagai kepala sekolah SDN 96 dengan bangga mengatakan, ”UNICEF telah membantu para siswa SDN 96 semenjak gempa dan secara bertahap memperbaiki lingkungan belajar serta kehidupan mereka. Seluruh masyarakat merasa sangat bangga dengan sekolah baru kami ini.” Dua unit sekolah semi permanen sekarang akan digunakan sebagai sekolah taman kanak-kanak dan balai desa.
Secara keseluruhan, UNICEF merencanakan untuk membangun 367 unit sekolah ramah anak dan tahan gempa di Aceh dan Nias. Bahkan 350 lokasi sekolah sudah ditentukan. Selain 14 sekolah yang sudah selesai, 304 sekolah lainnya dikontrakkan pada UNOPS dan dua perusahaan perancang dan pengawas.
14 sekolah sudah selesai Di propinsi Aceh and Kepulauan Nias, Sumatra Utara, ada 14 sekolah permanen yang telah selesai pembangunannya. Sementara 86 lainnya sedang dalam proses pembangunan. Enam di antaranya berada di pantai barat Aceh yang memperkenalkan standar rancangan baru yang bersifat ramah anak dan tahan gempa. SDN Alue Piet Krueng Sabee; SDN Kampong Baro, Setia Bakti dan SDN Keude Krueng Sabee, yang kesemuanya berada di Kabupaten Aceh Jaya telah diresmikan pada 18 Desember 2006. Kepala UNICEF Indonesia, Dr. Gianfranco Rotigliano, yang ikut menghadiri peresmian tersebut mengatakan, “Memang penting bagi kita untuk membangun sekolah-sekolah dengan tingkat keamanan yang tinggi di daerah-daerah yang rentan terhadap gempa bumi ini. Untuk masalah ini kita tidak bisa berkompromi.” SDN Alue Piet, yang terletak hanya beberapa ratus meter dari pantai di jalan dari Calang ke Meulaboh, dulunya memiliki 167 murid. Tsunami telah menghancurkan bangunan sekolah dan membinasakan hampir 100 murid. Saat sekolah semi permanen diresmikan pada Nopember 2005, jumlah sekolah yang dibangun meningkat dari 72 unit menjadi 112 unit. Namun diharapkan sekolah permanen akan diresmikan dan 300 rumah dibangun di dekatnya. SDN Alue Piet adlaah satu-satunya sekolah dasar di daerah tersebut untuk mengakomodasi empat desa. SDN Kampong Baro baru-baru ini telah memiliki 100 siswa dan 5 guru. Namun jumlah itu seharusnya ditambah karena pembangunan perumahan permanen sedang berlangsung di daerah ini. SDN Keude Krueng Sabee berada sekitar 10 mil dari Calang. Bangunan sekolah asli yang terletak jauh dari laut itu hancur karena gempa bumi sebelum terjadinya tsunami pada Desember 2004. Sebelum bencana ada 199 siswa dan sekarang masih tersisa 169 siswa dengan 12 guru yang masih tetap di sekolah tersebut. Selain desa Keude Krueng, ada dua desa lain yang juga memanfaatkan sekolah tersebut. Satu desa terimbas tsunami dan satunya lagi karena bekas daerah konflik. SDN 10 Meulaboh terletak di jantung kota Meulaboh di Aceh Barat. Ada 220 murid dan 17 guru yang belajar di tiga ruang kelas sekolah semi permanen yang dibangun UNICEF dan mitra pelaksananya IOM semenjak Desember 2005 sampai Januari 2007. Kini mereka pindah ke bangunan dengan enam kelas yang ramah anak dan tahan gempa. SDN Meunasah Tutong di Aceh Besar dan tiga sekolah lagi di Aceh Barat, yaitu SDN 4 Meulaboh, SDN Alue Peudeung dan SDN Alue Kuyuen, akan segera diselesaikan beberapa minggu mendatang. …dan 86 sekolah sedang dalam proses pembangunan UNICEF berkomitmen untuk membuat standar baru dan lebih tinggi dalam pembangunan sekolah dengan prinsip ‘membangun kembli yang lebih baik’. Standar baru itu adalah sekolah yang bersifat ramah anak dan tahan gempa, yang merupakan konsep baru di Indonesia. Pada pertengahan 2006, UNICEF memiliki Unit Pembangunan sendiri untuk mengelola proyek sekolah permanen. Perjanjian telah dicapai dengan mitra pelaksananya, yaitu UNOPS, untuk pembangunan 170 sekolah; dan dua perusahaan perancang dan pengawas, Nippon Koei dan Bita, yang masing-masing akan membangun 67 sekolah. Seperti disepakati oleh Pemerintah Indonesia pada Agustus 2006, proyek ini mencakup juga pembangunan kembali di daerah-daerah yang terimbas konflik bersenjata selama 32 tahun. Di Banda Aceh atau Aceh Besar, ada 37 sekolah yang sedang dalam pembangunan dan 3 atau 4 di antaranya akan segera rampung dalam dua bulan mendatang. Di Kabupaten Aceh Jaya, ada 15 sekolah yang sedang dibangun. Sementara di Kabupaten Nagan Raya dan Aceh Besar ada 18 sekolah, dimana masing-masing 9 unit yang sudah akan selesai pada pertengahan tahun ini.. Membangun sekolah tahan gempa memang memerlukan waktu yang lebih lama dibanding dengan sekolah dengan struktur yang tidak tahan gempa. Setiap tahap pembangunan memerlukan pengawasan melekat dan pengujian terus menerus agar memenuhi standar. UNICEF tidak berkompromi dengan masalah keamanan dan kualitas lingkungan belajar. Tetapi kalau dimungkinkan, prosesnya akan dipercepat. Sekolah modular dengan dua dan tiga ruang kelas telah dirancang untuk dibangun dengan beton, atau dengan bahan bangunan alternatif yang menggunakan kerangka baja ringan dan sub struktur beton. Ini demi mempercepat waktu dan memudahkan pengiriman bahan-bahan ke lokasi-lokasi yang aksesnya kurang terjangkau. Empat sekolah yang dibangun dengan beton sedang dalam proses pembangunan di Nias. Pembangunan telah mulai dengan 24 dari sub struktur (blok-blok beton) dan 20 super struktur (kerangka baja ringan) sebagai sekolah yang menggunakan metode konstruksi alternatif di Kabupaten Nias dan Nias Selatan. Sejauh ini UNICEF telah mendapatkan pelajaran yang tak ternilai. Kendala-kendala utama harus diatasi khususnya dalam hal pemilihan lokasi. Misalnya, banyak lokasi sekolah yang telah direncanakan ternyata hanya ada sedikit anak-anak yang tinggal di daerah tersebut. Tentu ini membuat sulit masalah pendanaan dalam pembangunan sekolah permanen, karena belum ada tanda-tanda tempat tersebut segera akan dihuni penduduk. Masalah tanah, perselisihan hak milik dan tantangan-tantangan lain juga memerlukan pembahasan lebih lanjut. Akibatnya lokasi dan pembangunan yang telah direncanakan pun harus didesain ulang. Lokasi lain juga memiliki tantangan lain seperti misalnya perbukitan, rawa-rawa dan bebatuan besar. Banyak jaringan jalan masih dalam perbaikan. Beberapa lokasi hanya bisa dilalui dengan jalan kaki atau sepeda motor. Dengan besarnya jumlah bahan bangunan yang harus dikirimkan, tentu lokasi yang jauh dari perkotaan ini menimbulkan tantangan. Yang paling parah adalah di kepulauan Nias. Secara aktif UNICEF mempromosikan partisipasi masyarakat setempat dalam keseluruhan proses, dari pemilihan lokasi dan rancangan sekolah, sampai pada rencana jangka panjang agar masyarakat mengelola dan menjaga sekolah dengan baik.
|