Pusat Media

Informasi media

Darurat

Flu Burung

Aceh & Nias

UNICEF Newsletters

 

Laporan UNICEF tentang himbauan untuk menyelamatkan anak-anak melalui imunisasi

© UNICEF/IDSA/022/Estey
Puluhan ribu anak Aceh dan Sumatra Utara terselamatkan dari wabah campak yang menakutkan saat mereka diimunisasi dengan vaksin dalam minggu pertama setelah bencana tsunami pada Desember 2004.

Jakarta, 30 September 2005

Laporan  UNICEF yang dikeluarkan terakhir menyebutkan bahwa 27 juta anak balita dan 40 juta ibu hamil di seluruh dunia masih belum mendapatkan layanan imunisasi rutin. Akibatnya, penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin ini diperkirakan menyebabkan lebih dari dua juta kematian tiap tahun. Angka ini mencakup 1,4 juta anak balita yang terenggut jiwanya.

Sejak diluncurkannya Program Pengembangan Imunisasi (EPI) pada 1974, imunisasi  telah menyelamatkan lebih dari 20 juta jiwa pada dua dasawarsa. Bahkan ini dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa dan dana daripada bentuk-bentuk intervensi lainnya. Program ini merupakan intervensi kesehatan dengan pembiayaan efektif. Tidak hanya jiwa yang terselamatkan tapi juga memacu pembangunan yaitu dengan mengurangi beban biaya kematian dan penyakit pada sebuah keluarga.

Sekalipun imunisasi telah menyelamatkan dua juta anak pada 2003, data yang terbaru menyebutkan bahwa 1,4 juta anak meninggal karena mereka tidak divaksin. Hampir seperempat dari 130 juta bayi yang lahir tiap tahun tidak diimunisasi agar terhindar dari penyakit anak yang umum.

Vaksin telah menyelamatkan jutaan jiwa anak-anak dalam tiga dekade terakhir, namun masih ada jutaan anak lainnya yang tidak terlindungi dengan imunisasi ("Progress for Children" Report no.3, September 2005)

Pada perkembangan selanjutnya, banyak Negara akan gagal mencapai tujuan-tujuan imunisasi yang ditetapkan pada Sidang Istimewa PBB yang khusus membahas soal Anak-anak pada 2002. Afrika Barat dan Afrika Tengah dianggap paling tidak berhasil karena cakupan rata-rata imunisasi tidak pernah meningkat dari kisaran 53 persen selama lebih dari satu dasa warsa. Negara-negara seperti Nigeria, Republik Afrika Tengah dan Guyana semakin mundur. Amerika Latin dan Karibia mengalami kemajuan dan bahkan melebih Negara-negara industri. 

Rata-rata angka imunisasi di Indonesia hanya 72 persen. Artinya, angka di beberapa daerah sangat rendah. Ada sekitar 2.400 anak di Indonesia meninggal setiap hari termasuk yang meninggal karena sebab-sebab yang seharusnya dapat dicegah. Misalnya tuberculosis, campak, pertussis, dipteri dan tetanus. “Ini merupakan tragedi yang mengejutkan dan tidak seharusnya terjadi. Masalah ini mencerminkan masalah-masalah sistem dari tingkat kabupaten ke bawah. Sekaligus juga mencerminkan perlunya pendanaan yang sesuai di tingkat nasional untuk untuk mendukung dan mempertahankan pengawasan program imunisasi di Indonesia. Wabah polio yang baru saja terjadi merupakan krisis kesehatan yang berdampak global. Ini merupakan contoh yang baik mengapa beberapa program tidak boleh dibiarkan gagal karena kurangnya dana dan kapasitas sumber daya manusia pada pelaksanaannya,” kata Dr. Gianfranco Rotigliano, Kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia.

Survei atas dugaan kasus polio yang dilakukan WHO menunjukkan bahwa di beberapa daerah angka imunitas kurang dari  56 persen. Tiga tahun sebelumnya angka imunitas mencapai 70 persen. Hal ini menunjukkan turunnya layanan kesehatan di beberapa daerah miskin.

Imunisasi adalah cara untuk mencegah agar anak terhindar dari cacat atau penyakit yang mematikan dengan biaya efektif. Cara ini dapat pula merangsang perkembangan sistem-sistem kesehatan dan menggambarkan investasi ekonomi yang bagus. Apalagi hal ini memberi kontribusi kesehatan yang lebih baik dan juga mengurangi kemiskinan.

 

 
unite for children