Pusat Media

Keterangan Pers

Kontak untuk media

Duta kehormatan dan sahabat anak

 

Pada Hari Toilet Sedunia, UNICEF mengatakan bahwa defekasi terbuka dapat diakhiri

World Toilet Day 2012 logo

New York, 19 November 2012 - Pada Hari Toilet Sedunia, UNICEF mengatakan bahwa kecenderungan dalam lima tahun terakhir ini menumbuhkan optimisme akan kemajuan yang signifikan dalam mengurangi tingkat buang air besar di tempat terbuka secara global.

Rendahnya jumlah toilet tetap menjadi salah satu penyebab utama penyakit dan kematian anak-anak. UNICEF memperkirakan bahwa sekitar 2 juta anak meninggal setiap tahun akibat pneumonia dan diare, penyakit yang sebagian besar dapat dicegah dengan perbaikan di bidang air, sanitasi dan kebersihan.

Saat ini UNICEF mendukung program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di 50 negara, termasuk daerah sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan yang sangat rentan. Dalam lima tahun terakhir, program ini berhasil membebaskan lebih dari 39.000 komunitas, dengan total 24 juta orang, dari buang air besar di tempat terbuka.

Dengan dukungan dari pemerintah dan mitra lainnya, UNICEF memperkirakan ada 88 juta orang lagi yang kini hidup dalam komunitas yang bebas dari buang air besar di tempat terbuka.

"Bagusnya metode ini adalah bahwa solusi tidak dipaksakan dari luar," kata Therese Dooley, penasihat senior UNICEF pada bidang sanitasi, "Masyarakat memimpin dan mengidentifikasi langkah-langkah mereka sendiri untuk mengakhiri buang air besar di tempat terbuka. Itulah satu-satunya cara yang paling efektif. "

Sekitar 100 juta orang di Asia Timur dan Pasifik masih buang air besar di tempat terbuka. Secara global, hampir tiga perempat dari orang-orang yang masih buang air besar di tempat terbuka tinggal di dua belas negara.

Di Sudan Selatan, yang pada tahun 2011 menjadi negara terbaru di dunia, sudah ada lima komunitas yang telah mencapai status 'bebas dari defekasi terbuka', menunjukkan bahwa kemiskinan bukan halangan yang tak dapat diatasi untuk mengakhiri BAB di tempat terbuka. Bank Dunia memperkirakan tingkat kemiskinan di negara ini adalah 50,9 persen. Meskipun belum ada laporan peringkat Indeks Pembangunan Manusia UNDP untuk negara ini, semua hal mengindikasikan kemungkinan atas peringkat yang cukup rendah.

Di Pakistan, hampir 5.000 desa dengan total 5,8 juta orang telah dinyatakan bebas dari buang air besar di tempat terbuka berkat program-program STBM yang didukung UNICEF. Kemajuan yang pesat dan menonjol juga telah terjadi di Mozambik, Zambia, Mali, Sierra Leone, Malawi dan Etiopia.

STBM bertujuan untuk membebaskan masyarakat dari buang air besar di tempat terbuka dengan berfokus pada perubahan sosial dan perilaku, serta penggunaan teknologi yang tepat dan terjangkau.

Penekanannya adalah pada pemanfaatan fasilitas sanitasi yang berkelanjutan daripada pembangunan infrastruktur, dan metode ini tergantung pada keterlibatan anggota masyarakat mulai dari individu, sekolah-sekolah, dan para pemimpin tradisional. Masyarakat menggunakan kapasitas mereka sendiri untuk mencapai tujuan mereka dan mengambil peran sentral dalam perencanaan dan pelaksanaan sanitasi yang baik.

Menurut laporan bersama dari UNICEF dan WHO yang dirilis awal tahun ini, lebih dari 1,1 miliar orang di dunia masih buang air besar di tempat terbuka. Jumlah terbesar adalah di India (626 juta), diikuti oleh Indonesia (63 juta), Pakistan (40 juta), Ethiopia (38 juta), dan Nigeria (34 juta). Dua belas negara dengan jumlah penduduk tanpa akses terhadap sanitasi layak tertinggi yaitu: India (626 juta), Indonesia (63 juta), Pakistan (40 juta), Ethiopia (38 juta), Nigeria (34 juta), Sudan (19 juta ), Nepal (15 juta), China (14 juta), Nigeria (12 juta), Burkina Faso (9,7 juta), Mozambik (9,5 juta), dan Kamboja (8,6 juta).

"Tidak ada operasi bantuan di dunia yang dapat menyediakan toilet untuk 1,1 miliar orang," ucap Dooley. "Mereka harus melakukannya untuk diri mereka sendiri - dengan dukungan. Dan kami telah menemukan, pada kenyataannya, bahwa hanya ketika mereka melakukannya untuk diri mereka sendiri perubahan dapat dicapai dan sifatnya berkelanjutan. "

 

 
Search:

 Kirimkan artikel ini

unite for children