Pusat Media

Keterangan Pers

Kontak untuk media

Duta kehormatan dan sahabat anak

 

Kemitraan antara pemerintah Indonesia, UNICEF, dan Uni Eropa dalam membantu mengatasi tantangan gizi untuk anak

Kemitraan UNICEF, Uni Eropa, dan pemerintah Indonesia
© UNICEF Indonesia/2012/Arianta

Jakarta, 29 Oktober 2012. Kemitraan yang luas antara pemerintah Indonesia, UNICEF, dan Uni Eropa dalam mengatasi masalah gizi di kalangan anak-anak bangsa menunjukkan tanda-tanda kemajuan yang penting.

Ketiga mitra tersebut akan menyatukan sumber daya keuangan dan sumber daya teknis untuk menyampaikan tingkat kekhawatiran atas terhambatnya pertumbuhan tinggi badan di kalangan anak-anak Indonesia – yang tidak sesuai dengan usianya – dan juga hal-hal lain terkait dengan masalah gizi.

Tahun lalu, sebanyak hampir 500 petugas kesehatan, bidan, ahli gizi, dan relawan masyarakat telah mendapatkan manfaat dari pelatihan khusus yang memungkinkan mereka untuk lebih memahami penyebab terhambatnya pertumbuhan tinggi badan juga penyebab kekurangan gizi, dan langkah-langkah apa saja yang dapat dilakukan untuk membantu para keluarga dalam merawat anak-anak mereka secara lebih efektif.

Aksi-aksi masyarakat pun telah didukung dengan adanya pengalokasian anggaran tambahan, seperti yang terjadi di desa-desa wilayah propinsi Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur, dimana di dalamnya termasuk pelaksanaan kegiatan untuk meningkatkan sarana kebersihan, mempromosikan pemberian ASI yang lebih baik, termasuk pemberian makanan pendamping ASI, dan juga memantau status gizi anak-anak, sebagai bagian dari rencana pembangungan lokal di wilayah mereka.

Pendidikan gizi tengah dipadukan ke dalam program pemerintah yang disebut dengan Program Keluarga Harapan (PKH), yang membantu penyediaan bantuan berupa uang tunai kepada para keluarga miskin sebagai imbalan atas partisipasi mereka dalam memprakarsai kesehatan dan pendidikan. Karya yang cukup besar telah dilaksanakan untuk menambah pedoman, standar, dan materi pelatihan dalam pengelolaan kondisi gizi buruk yang parah, memfasilitasi ASI dan makanan pendamping ASI, dan juga meningkatkan program-program zat gizi mikro.

“Kita tahu bahwa perbaikan gizi dapat menjadi kenyataan jika semua orang-orang di dalam masyarakat menyadari bagaimana berperilaku gizi yang baik dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Inilah hal utama yang paling penting, namun seringkali diabaikan, oleh keluarga-keluarga yang paling rentan terkena masalah gizi buruk”, perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Angela Kearney, menyebutkan. “Menangani masalah terhambatnya pertumbuhan tinggi badan, pada khususnya, memiliki konsekuensi penting bagi prospek ekonomi dan pembangunan jangka panjang di Indonesia, karena dengan penanganan yang baik, anak-anak akan menunjukkan perilaku yang lebih baik di sekolah, tumbuh lebih sehat, dan dengan demikian, dapat berperan sebagai orang yang lebih berguna di dalam lingkungan masyarakat mereka ketika mereka dewasa nantinya.

Dr. Minarto, Direktur Gizi untuk Kementrian Kesehatan Indonesia, juga menggarisbawahi pentingnya pergeseran kebijakan yang coba diusung oleh kemitraan ini.

“Indonesia adalah pemain terkemuka dalam mengakselerasi perbaikan gizi (SUN) global, dan melalui kolaborasi ini kita telah mendirikan jaringan kunci di antara departemen-departemen pemerintah, badan-badan PBB, lembaga bantuan internasional, organisasi-organisasi non-pemerintah, dan juga sektor swasta,yang akan membantu lebih baik lagi dalam mengawasi penargetan sumber-sumber daya, tanggapan program yang lebih baik, dan yang terpenting, reformasi kebijakan untuk meningkatkan gizi bagi anak-anak kita,” kata Dr. Minarto.

Berbicara untuk Uni Eropa, yang telah menyumbangkan sebesar €20 juta (US$245 juta) kepada UNICEF untuk mengatasi masalah kekurangan gizi di seluruh wilayah Asia dan Pasifik, Mr. Erik Habers, Kepala Operasi Utusan Uni Eropa untuk Indonesia, Brunei Darussalam, dan ASEAN, menggarisbawahi bahwa mengurangi gizi buruk adalah prioritas utama, dimana beliau juga menegaskan bahwa Uni Eropa memiliki keterlibatan yang besar dalam perang global melawan gizi buruk dan mekanisme koordinasi untuk mengakselerasi perbaikan gizi (SUN). Mr. Habers juga memperhatikan bahwa Uni Eropa pun telah meningkatkan pendanaan langsung untuk menangani kekurangan gizi di Asia, Amerika Latin, dan Afrika, dimana sejak tahun 2008 Uni Eropa telah memberikan sumbangan lebih dari €650 juta dalam campur tangannya seputar masalah gizi.

Di Indonesia, perhatian kemitraan ini difokuskan pada propinsi Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah, dan Papua, dan melalui program-program perbaikan gizi dan pengetahuan yang lebih baik tentang praktek makan yang sehat, kemitraan ini bertujuan untuk meraih 3,8 juta anak-anak dan 800.000 wanita hamil dan menyusui. Terhambatnya pertumbuhan tinggi badan diidap oleh lebih dari 1 anak dari 3 anak-anak di bawah usia lima tahun di Indonesia, sementara sedikitnya 1 anak dari 5 anak-anak dalam kelompok usia ini pun kekurangan berat badan.

Meningkatkan ketrampilan para tenaga kesehatan, penargetan sumber daya yang lebih baik, dan memperkuat pengetahuan dasar tentang berperilaku sederhana seperti pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama setelah bayi baru lahir, dan menerapkan pemberian makanan tambahan setelah enam bulan tersebut, diketahui dapat mengurangi resiko gizi buruk juga membantu mengurangi angka kematian anak.

Angka kematian bayi dan balita di Indonesia adalah seperempatnya sejak tahun 1990, namun laporan terbaru menunjukkan bahwa sebanyak 134.000 anak-anak di bawah usia lima tahun meninggal dunia setiap tahunnya, dimana hal tersebut terutama disebabkan oleh masih adanya permasalahan kesehatan dan gizi.

 

 

 

 

European Union website

Government of Indonesia website

Search:

 Kirimkan artikel ini

unite for children