Pusat Media

Keterangan Pers

Kontak untuk media

Duta kehormatan dan sahabat anak

 

Pada Hari Cuci Tangan Sedunia, UNICEF mengatakan: Ini tidak rumit, tapi penting

JAKARTA, 15 Oktober 2012 - Ketika dunia merayakan Hari Cuci Tangan Sedunia yang kelima, UNICEF menekankan bahwa tindakan sesederhana mencuci tangan dengan sabun dapat menyelamatkan ratusan ribu jiwa anak-anak setiap tahun di seluruh dunia.

Angka tingkat kematian yang dirilis UNICEF bulan lalu menunjukkan bahwa secara global sekitar 2.000 anak di bawah usia lima tahun meninggal setiap hari akibat penyakit diare. Dari jumlah tersebut sebagian besar - atau sekitar 1.800 anak per hari - meninggal karena penyakit diare karena kurangnya air bersih, sanitasi dan kebersihan dasar.

Di Indonesia, penyakit diare bertanggung jawab untuk sekitar seperempat dari 130.000 kematian tahunan di antara anak balita. Hal ini mengancam kemajuan penting yang telah dicapai Indonesia dalam mengurangi separuh angka kematian anak selama 20 tahun terakhir.

"Hari Cuci Tangan Sedunia adalah lebih dari sekedar satu hari," kata Angela Kearney, Kepala Perwakilan UNICEF untuk Indonesia. "Kami ingin pesan ini menyebar dari anak-anak untuk keluarga, masyarakat dan bangsa. Menghentikan penyebaran penyakit diare tidak rumit, atau mahal, tetapi yang sangat penting adalah bahwa mencuci tangan dengan sabun menjadi rutinitas bagi semua orang."

Tahun ini UNICEF mendapatkan data-data baru dari survei rumah tangga yang menunjukkan prevalensi cuci tangan dalam keluarga. Data ini melukiskan beragam gambaran yang menunjukkan bahwa praktek cuci tangan berbeda dari satu negara ke negara lain dan dipengaruhi oleh lokasi, budaya dan kekayaan.

Sebagai contoh, di Swaziland pada tahun 2010, 50 persen keluarga perkotaan cenderung mempraktekkan cuci tangan, dibandingkan dengan hanya 26 persen di daerah pedesaan. Di Rwanda hanya 2 persen dari populasi mencuci tangan. Pada saat yang sama, 96 persen dari rumah tangga terkaya di Mongolia mencuci tangan mereka dengan benar, dibandingkan dengan 10 persen dari yang termiskin.

Di Indonesia, Demographic and Health Survey (DHS) tahun 2007 menemukan bahwa tingkat cuci tangan di antara perempuan sangat tinggi, yaitu 96 persen. Namun data tersebut tidak mengidentifikasi apakah ini terjadi pada saat yang benar (seperti sebelum persiapan makanan) dan tidak membedakan antara mencuci tangan dengan atau tanpa sabun.

Karena penyebaran penyakit diare pada dasarnya adalah fecal-oral (dari kotoran ke mulut), salah satu pencegahan yang paling sederhana dan murah adalah dengan mencuci tangan dengan sabun pada saat kritis, seperti sebelum menangani makanan dan setelah buang air besar atau mengganti popok.

UNICEF, dengan Global Public Private Partnership for Handwashing, juga meluncurkan kampanye media sosial dengan hashtag #iwashmyhands yang sudah mencapai ribuan orang di seluruh dunia. Kemitraan ini juga telah mengembangkan sebuah game ‘World Wash Up’ pada situs Hari Cuci Tangan Sedunia (http://globalhandwashing.org/) yang mengajak pemain untuk membinasakan kuman.

"Kami melakukan semua yang kami bias lakukan untuk memastikan bahwa semua orang mendapat pesan tersebut," ucap Ibu Kearney. "Anda tidak perlu menciptakan sebuah formula baru untuk menyelamatkan jutaan anak-anak. Solusinya sudah ada: sabun dan air".

 

 
Search:

 Kirimkan artikel ini

unite for children