Pusat Media

Informasi media

Darurat

Flu Burung

Aceh & Nias

UNICEF Newsletters

 

UNICEF: Sumbangan Susu Formula Saat Bencana Membahayakan Bayi

Jakarta, 12 Agustus 2009 — Memberikan susu formula saat bencana dapat membahayakan hidup bayi, kata UNICEF pada hari Rabu sambil menyerukan pengaturan ketat sumbangan dan distribusi susu tersebut.

Data yang dikumpulkan satu bulan setelah Gempa Bantul pada tahun 2006 menunjukkan meningkatnya penyakit diare sebanyak empat kali lipat pada bayi di bawah umur dua tahun. Terbukti 25 persen yang sakit itu ternyata minum susu formula, dua kali lipat dari bayi yang tidak diberikan susu formula.  Bantuan susu formula dan makanan bayi saat bencana terbukti membahayakan bayi karena sarana air bersih untuk membuat susu formula secara higienis terbatas.

Hari ini di Bekasi, Jawa Barat, UNICEF dan Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan mengawali Pekan ASI Dunia dan Bulan ASI Nasional 2009 dengan seminar bertema ASI: Sebuah respon penting saat darurat – Siapkah Anda?” untuk menggarisbawahi pentingnya ASI sebagai respon yang dapat menyelamatkan bayi.

 “Saat bencana, seperti dalam kondisi normal sekalipun, berhentinya ASI dan pemberian susu formula akan meningkatkan risiko malnutrisi, penyakit dan bahkan kematian,” kata Angela Kearney, Kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia. “Ibu-ibu harus didukung agar bisa meneruskan ASI. Sumbangan susu formula harus diatur dengan ketat agar hanya digunakan untuk anak-anak yang benar-benar membutuhkannya,” tambah Ibu Angela. Marcoluigi Corsi, Deputi Perwakilan UNICEF Indonesia, hadir di acara ini atas nama Ibu Kearney.

UNICEF, WHO dan Ikatan Dokter Indonesia meyerukan berulangkali bahaya distribusi susu formula setelah Tsunami menerpa Aceh di tahun 2004 dan beberapa bencana lain. Namun susu formula masih terus disumbangkan dalam jumlah besar karena masih kurangnya pengertian dari para pekerja kemanusiaan dan masyarakat luas. Kapasitas pekerja kesehatan masih sangat terbatas sehingga tidak bisa memberi dukungan kepada ibu-ibu cara memberikan ASI saat bencana. Kemampuan memantau dan mengawasi sumbangan susu dan makanan bayi pun sangat minin. 

Di Indonesia, praktek pemberian makanan yang baik untuk bayi dan balita menurun.  Di antara tahun 2002 dan 2007, ASI ekslusif 6 bulan menurun dari 40 persen ke 33 persen, dibarengi dengan meningkatnya penggunaan susu formula.   “Pertama kita harus meneruskan usaha peningkatan ASI ekslusif 6 bulan dalam situasi normal jika kita ingin menguatkan kebiasaan ASI saat bencana,”  kata Ibu Kearney. 

UNICEF, WHO dan Departemen Kesehatan bekerja dengan mitra lain untuk memperbaiki kebijakan dan layanan kesehatan agar ASI dan praktek pemberian makanan yang baik terus meningkat. Tingkat ASI di Kabupaten Klaten menunjukkan peningkatan pesat dari 3 persen ke 22 persen setelah promosi ASI satu tahun pasca gempa di tahun 2006.  UNICEF akan meneruskan advokasi agar model ini dapat dicontoh di daerah yang mengalami tingkat ASI rendah.

Pada acara hari ini, UNICEF mendistribusikan paket advokasi yang terdiri dari berbagai kebijakan, bahan pelatihan video dan iklan layanan masyarakat tentang praktek pemberian makanan baik yang pada bayi dan balita di situasi darurat. Paket tersebut diperuntukkan bagi para pengambil kebijakan dan pengelola program di pemerintahan dan lembaga swadaya masyarakat.

Hubungi: Anna Winoto, Nutrition Specialist, 0811803412,  awinoto@unicef.org atau
Iwan Hasan, Communication for Development Specialist, 081511331234, ihasan@unicef.org

 

 

 

 

Link Terkait






unite for children