Pemimpin Muda Indonesia 2008

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyerahkan penghargaan di hari anak

 Mari mengingat para pemimpin muda tahun lalu yang memberi inspirasi bagi kami semua ... 
 

Oleh Devi Asmarani

Muhammad Iman Usman
Diusianya yang masih muda, Iman telah menghabiskan banyak waktunya untuk memperjuangkan hak-hak anak. Remaja berusia 17 tahun ini terlibat dalam berbagai organisasi dan aktivitas, mulai dari kampanye peduli HIV/AIDS, sampai promosi daur ulang.

Iman diusulkan oleh Lembaga Perlindungan Anak Sumatra Barat. Ia juga mendapat rekomendasi dari Ady Juanda, ketua pengurus Forum Anak Daerah Sumatra Barat. Forum ini adalah organisasi anak yang bertugas mempromosikan hak anak dan berperan sebagai mitra dialog anak dengan pemangku kepentingan terkait.

Iman menjabat sebagai sekretaris di Forum Anak Daerah Sumatra Barat, sekaligus ketua Komunitas Anak Kritis Indonesia (KAKI) di Sumatra Barat. Beberapa proyeknya di KAKI termasuk memberi kesempatan bagi anak untuk mengkritis kebijakan serta permasalahan yang ada saat ini dengan cara yang berbeda, sesuai dengan bakat masing-masing anak. Ia juga membuat weblog KAKI sebagai media bagi anak-anak untuk memberikan opini terhadap berbagai isu global. Selain itu, ia mengorganisir program daur ulang di sekolahnya, SMPN 2 Padang, serta mengumpulkan buku dan majalah bekas untuk anak-anak korban gempa bumi Sumbar.

Ia terpilih menjadi Duta Remaja Peduli HIV/AIDS dan Pendidik Sebaya Indonesia Youth Partnership Sumbar. Iman juga seorang relawan di organisasi remaja Pusat Keluarga Berencana Indonesia (Cemara) di Padang.
Dalam bidang akademis, prestasinya tak kalah hebat. Pada 2008, ia menyandang predikat peringkat I siswa berprestasi tingkat SLTA se-kota Padang. Tahun sebelumnya ia mengikuti program singkat organisasi pertukaran pelajar internasional, AFS Intercultural
Programs.

Iman menggemari membaca, bermain Internet, berdebat, menulis, serta berorganisasi. Ia bercita-cita menjadi diplomat atau humas. Dia juga ingin suatu hari memiliki perusahaan penyelenggara kegiatan.
Anak bungsu dari enam bersaudara ini lahir di Padang tahun 1991 dari orang tua H.M. Hayan dan Hj. Yanzimar.

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meuthia Hatta, dan UNICEF bertemu Muhammad Iman Hasan pada saat pemberian penghargaan.

Patricia Miranda Wattimena
Patricia suka berbicara dan berdebat, oleh karena itu ia sekarang kuliah di fakultas hukum di Universitas Pattimura di Ambon. Cita-citanya suatu saat menjadi seorang pengacara handal yang memperjuangkan has asasi manusia, khususnya hak-hak anak.

Patricia dicalonkan oleh Pemerintah Provinsi Maluku, sekaligus direkomendasikan Lembaga Antar Iman Maluku untuk Kemanusiaan.

Patricia aktif menggunakan kemampuan persuasifnya untuk menyebarkan informasi tentang bahaya HIV/AIDS dan narkotika dan zat addiktif lainnya. Ia juga memimpin organisasi dari anak, oleh anak dan untuk anak, Saniri Anak Maluku, dimana dia aktif menyuarakan anti kekerasan, serta dukungan terhadap Undang-Undang Perlindungan Anak dan pentingnya suara anak dalam memperjuangkan hak anak.

Dia menunjukkan kemampuannya dalam seni pertunjukan dalam pementasan “Melempar Bintang dan Hitam Putih” oleh Bengkel Teater Kreatif Embun. Ia juga terlibat dalam pendataan dan perumusan kegiatan pembinaan anak jalanan di Ambon. Selain itu, ia juga mengepalai forum anak daerah Maluku.

Patricia terlahir 18 tahun yang lalu dari orang tua Pieter Wattimena dan Mariana Lekahena. Dia mempunyai prinsip: “Teori adalah nol besar tanpa sebuah realisasi.”

Suci Lestari
Setelah selamat dari tsunami di Aceh, Tari telah menuangkan sebagian besar tenaga dan upayanya untuk menolong anak-anak lain seperti dia. Dia menjadi anak yatim sejak bencana tersebut, tetapi semangat gadis 16 tahun membuat orang sekitarnya mempercayainya dalam berbagai kegiatan, terutama dalam menyuarakan hak anak.

Tari dicalonkan oleh Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Banda Aceh, sebuah LSM yang mempromosikan hak anak dan aktif bekerja pada perlindungan anak, khususnya mendampingi anak korban tsunami di Aceh.


Para pemenang PMI 2008 bersenyum dengan sertifikat penghargaan yang
mengakui keberhasilannya untuk mempromosikan hak-hak anak
.

Sebagai duta anak PKPA Aceh, anak tertua dari tiga bersaudara mengorganisir kegiatan bersama pengembangan bakat, pemulihan psikososial anak korban tsunami dan diskusi reguler tentang hak-hak anak pada kelompok dampingan. Ia juga Pendidik Sebaya untuk kesehatan reproduksi remaja di sekolah menengah pertama dan atas, serta staff redaksi Ceudah (media kreasi dan informasi remaja).

Tari juga wakil ketua Komite Anak Kecamatan Kota Jantho Aceh Besar, dimana dia, antara lain, berkampanye untuk melindungi anak dari kekerasan. Selain itu ia juga wakil ketua Forum Anak Aceh Besar.

Lahir di Banda Aceh tahun 1992 dari orang tua Ali Amran dan Sri Muliati, Tari ingin menjadi pramugari.

 

 

Español Français

 

 

Link Terkait